Categories
Uncategorized

Grade Kambing Peranakan Ettawa Pada Kondisi Kawasan Yang Berbeda

Kambing Peranakan Ettawa

Kabupaten Kulon Progo ialah salah satu kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menjadi sumber benih kambing Peranakan Ettawa (PE). Kambing PE banyak dipelihara oleh peternak di daerah pegunungan Menoreh, seperti Girimulyo, Samigaluh, Kokap dan sebagian Pengasih. Hal ini karena lingkungan yang mendukung untuk pengembangan kambing PE, dan sumber kekuatan alam lebih-lebih ketersediaan pakan yang mencukupi untuk berkembangnya kambing PE.
Tetapi, saat ini masyarakat yang tinggal di dataran rendah juga mulai mengoptimalkan budidaya ternak kambing, karena memandang prospek dan potensi ternak kambing PE yang sungguh-sungguh menjanjikan. Banyak masyarakat di pesisir pantai yang memelihara kambing, baik kambing lokal (kacangan) ataupun kambing PE.
Pengembangan kambing PE di daerah pesisir ialah alternatif yang perlu ditelaah baik produksi ataupun reproduksinya. Daerah pesisir menyimpan banyak sekali potensi pakan yang dapat digunakan untuk pengembangan kambing. Ketersediaan pakan dari tanaman pemecah angin dan tanaman pertanian yang mulai dikembangkan di daerah pantai sungguh-sungguh mendukung berkembangnya ternak kambing PE dan Bligon dengan berjenis-variasi variasi mutu genetiknya.

Sistem Penjualan


Sistem penjualan Kambing PE dibedakan menurut grade atau kelas, ialah grade A, B, C, dan D. Untuk grade A menggambarkan bahwa kambing hal yang demikian mempunyai mutu super dibandingkan kelas B dan C, sedangkan untuk kambing yang masuk kelas D biasanya kambing berumur lebih dari satu tahun dan telah afkir serta siap untuk dipotong.
Grade kambing dapat memberi akibat harga jual kambing hal yang demikian. Berdasarkan harga jual di tingkat pedagang, kambing dengan grade A mempunyai harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan ketiga grade lainnya. Penentuan grade kambing PE menurut pada ciri-ciri karakteristik kualitatif ataupun kuantitatif kedekatan dengan genetis kambing Ettawa. Kriteria yang digunakan ialah tinggi gumba, panjang badan, panjang dan wujud alat pendengaran, profil muka, wujud mandibula (rahang bawah), tanduk dan panjang bulu (Galih, 2010).
Pengetahuan mengenai penampilan ternak kambing PE benih unggul menjadi suatu hal yang totaliter dalam rangka meningkatkan kekuatan produksi ternak selanjutnya. Taksiran kesanggupan seekor ternak dalam berproduksi dapat diketahui melalui pemanfaatan kriteria ukuran-ukuran tubuh. Peningkatan ukuran tubuh akan terjadi seiring dengan bertambahnya umur pada ternak. Setiadi et al. (1994), menceritakan bahwa ketinggian daerah juga memberi akibat ukuran tubuh ternak, kambing PE yang dipelihara di dataran tinggi mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan kambing PE yang dipelihara di dataran rendah.
Berdasarkan pengukuran ukuran-ukuran tubuh yang pernah dijalankan terhadap kambing PE betina oleh Phalepi (2004), diperoleh persamaan dan perbedaan mengenai ukuranukuran hal yang demikian dengan hasil pengamatan segera di lapangan. Penelitian dijalankan dengan tujuan untuk mengetahui grade kambing PE yang dipelihara peternak di dua lokasi berbeda ialah daerah pantai dan pegunungan.

Grade Kambing Peranakan Ettawa


Grade Kambing Peranakan Ettawa Kualitas kambing PE di lokasi penelitian oleh masyarakat lebih dikuasai oleh sifat kualitatif daripada sifat kuantitatif. Sifat kualitatif kambing PE lebih didasarkan pada kedekatan darah dengan kambing Ettawa. Berdasarkan Sumadi (2001), sifat kualitatif mencakup wujud biasa, mata, rahang bawah, profil muka, bulu kaki belakang, tanduk, gelambir, alat pendengaran dan ambing.
Kambing PE, di tingkat peternak diseleksi dan dikatagorikan dalam 3 kelas atau grade kambing ialah grade A, B, dan C. Kambing PE kelas A dengan umur 2 tahun dapat mencapai tinggi punggung 90 cm, dan panjang lebih dari 1 m dengan berat rata-rata kurang lebih 100 kg (Noer, 2007). Meski untuk kambing PE ras Kaligesing, dibedakan menjadi 4 grade ialah grade A, B, C dan D.
Kelas A mempunyai ciri-ciri kepala melengkung atau cembung dan tidak berjambul, bibir bawah lebih kedepan, alat pendengaran merekat muka dengan lipatan kedepan sekitar 30 cm, bergelambir, tanduk ke belakang melingkari alat pendengaran, warna bulu hitam penuh dari kepala hingga leher, panjang gumba sekitar 70 cm, gembol atau rewos panjang dan tebal, lingkar dada lebar dan melengkung, ambing untuk betina dan testis untuk jantan mempunyai panjang yang sama (simetris), ekor besar seperti mawar dan lurus menyerupai tupai, tubuh besar dan sehat serta mempunyai kaki yang besar.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ukuran-ukuran tubuh kambing PE induk di daerah pantai secara biasa lebih rendah dibandingkan dengan daerah pegunungan, sebaliknya kambing PE jantan, dara dan cempe mempunyai ukuranukuran tubuh yang lebih tinggi. Kambing PE di daerah pantai dan daerah pegunungan telah memenuhi prasyarat standar kambing PE benih, melainkan ukuran-ukuran 48 Sains Peternakan Vol. 11 (1), 2013 tubuh dan bobot badan masih di bawah ratarata sehingga dikatagorikan dalam grade B baik untuk betina dewasa, pejantan, dara dan cempe.

Categories
Uncategorized

Regulasi Seputar Qurban Hewan Ternak

Regulasi Seputar Qurban

Pelatihan Ternak Kambing | Hallo, punya usaha ternakan kambing ? kali ini akan mengupas mengenai tata tertib tentang Qurban, yang pastinya ini cukup sungguh-sungguh penting di pelajari bila suatu saat kita memiliki calon konsumen yang berkeinginan membeli binatang qurban lalu konsumen bertanya-tanya tentang tata tertib qurban itu sendiri seperti apa.
Apabila anda seorang pemilik usaha ternak kambing mulai saat ini coba anda pelajari mengenai hal seperti ini, anda bisa mempelajari dari tokoh agama di sekitar anda atau anda juga bisa ikut Pelatihan Ternak Kambing, kini telah banyak pelatihan ternak kambing yang membuka workshop nya dan salahsatu nya mungkin akan di bahas tentang tata tertib Qurban.
Berikut ini akan diceritakan sebagian tata tertib secara lazim yang berhubungan dengan binatang qurban, untuk melengkapi pembahasan sebelumnya:
1) Berdasarkan pendapat yang rajih, binatang qurban disuarakan sah (ta’yin) sebagai أُضْحِيَّةٌ dengan dua hal:
a. Dengan ucapan: هَذِهِ أُضْحِيَّةٌ (Binatang ini yaitu binatang qurban)
b. Dengan tindakan, dan ini dengan dua metode:

  1. Taqlid yaitu diikatnya sandal/sepatu binatang, potongan-potongan qirbah (daerah air yang menggantung), pakaian lusuh dan yang semisalnya pada leher binatang. Ini berlaku untuk unta, sapi dan kambing.
  2. Isy’ar yaitu disobeknya punuk unta/sapi sehingga darahnya mengalir pada rambutnya. Ini cuma berlaku untuk unta dan sapi saja.
    Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
    فَتَلْتُ قَلاَئِدَ بُدْنِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيَّ ثُمَّ أَشْعَرَهَا وَقَلَّدَهَا
    “Aku memintal ikatan-ikatan unta-unta Rasulullah dengan kedua tanganku. Lalu beliau isy’ar dan men-taqlid-nya.” (HR. Al-Bukhari no. 1699 dan Muslim no. 1321/362)
    Kedua tindakan ini khusus pada binatang hadyu, meski qurban cukup dengan ucapan. Adapun semata-mata membelinya atau cuma meniatkan tanpa adanya lafadz, maka belum disuarakan (ta’yin) sebagai binatang qurban. Berikut ini akan diceritakan sebagian tata tertib bila binatang hal yang demikian telah di-ta’yin sebagai binatang qurban:
    2) Dibolehkan menunggangi binatang hal yang demikian bila dibutuhkan atau tanpa keperluan, selama tidak memudaratkannya.
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang seseorang memberi arahan unta (qurban/hadyu) maka beliau bersabda:
    ارْكَبْهَا
    “Tunggangi unta itu.” (HR. Al-Bukhari no. 1689 dan Muslim no. 1322/3717)
    Juga datang dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu (Al-Bukhari no. 1690 dan Muslim no. 1323) dan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma (HR. Muslim no. 1324). Lafadz hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut:
    ارْكَبْهَا بِالْمَعْرُوْفِ إِذَا أُلْجِئْتَ إِلَيْهَا حَتَّى تَجِدَ ظَهْرًا
    “Naikilah unta itu dengan metode yang baik bila engkau memerlukannya hingga engkau mendapatkan tunggangan (lain).”
    3) Dibolehkan mengambil kemanfaatan dari binatang hal yang demikian sebelum/sesudah disembelih selain menungganginya, seperti:
    a. mencukur bulu binatang hal yang demikian, bila hal hal yang demikian lebih berkhasiat bagi sang binatang. Misal: bulunya terlalu tebal atau di badannya ada luka.
    b. Meminum susunya, dengan ketetapan tidak memudaratkan binatang hal yang demikian dan susu itu kelebihan dari keperluan si kecil sang binatang.
    c. Memanfaatkan seluruh sesuatu yang ada di badan sang binatang, seperti tali kekang dan pelana.
    d. Memanfaatkan kulitnya untuk alas duduk atau alas shalat sesudah disamak.
    Dan beragam sisi kemanfaatan yang lainnya. Dasarnya yaitu keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌ
    “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu mendapatkan kebaikan yang banyak padanya.” (Al-Hajj: 36)
    4) Tak dibolehkan menjual binatang hal yang demikian atau menghibahkannya selain bila berkeinginan menggantinya dengan binatang yang lebih baik. Demikian pula tidak boleh menyedekahkannya selain sesudah disembelih pada waktunya, lalu menyedekahkan dagingnya.
    5) Tak dibolehkan menjual kulit binatang hal yang demikian atau apa saja yang ada padanya, tapi untuk dishadaqahkan atau dimanfaatkan.
    6) Tak dibolehkan memberikan bayaran dari binatang hal yang demikian apa saja wujudnya kepada tukang sembelih. Tapi bila diberikan dalam wujud uang atau sebagian dari binatang hal yang demikian sebagai shadaqah atau hadiah bukan sebagai bayaran, maka dibolehkan.
    Berikut ada arti dari salah satu dalil :“Nabi memerintahkan aku untuk menangani (penyembelihan) unta-untanya, membagikan dagingnya, kulit, dan perangkatnya kepada orang-orang miskin dan tidak memberikan sesuatu malahan darinya sebagai (bayaran) penyembelihannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1717 dan 1317)
    7) Apabila terjadi cacat pada binatang hal yang demikian sesudah di-ta’yin (disahkan sebagai binatang qurban) maka dirinci:
  • Apabila cacatnya membikin binatang hal yang demikian tidak sah, maka disembelih sebagai shadaqah bukan sebagai qurban yang syar’i.
  • Apabila cacatnya ringan maka tidak ada keadaan susah.
  • Apabila cacatnya terjadi dampak (tindakan) sang pemilik maka ia semestinya mengganti yang misalnya atau yang lebih baik
  • Apabila cacatnya bukan sebab kesalahan sang pemilik, maka tidak ada keharusan mengganti, sebab tata tertib asal berqurban yaitu sunnah.
    8) Apabila binatang hal yang demikian sirna atau lari dan tidak ditemukan, atau dicuri, maka tidak ada keharusan apa-apa atas sang pemilik. Kecuali bila hal itu terjadi sebab kesalahannya maka ia semestinya menggantinya.
    9) Apabila binatang yang lari atau yang sirna hal yang demikian ditemukan, meski sang pemilik telah membeli gantinya dan menyembelihnya, maka cukup bagi ia binatang ganti hal yang demikian sebagi qurban. Sedangkan binatang yang ketemu hal yang demikian tidak boleh dipasarkan tapi disembelih, sebab binatang hal yang demikian telah di-ta’yin.
    10) Apabila binatang hal yang demikian mengandung bayi dalam kandungan, maka cukup bagi ia menyembelih ibunya untuk menghalalkannya dan janinnya. Tapi bila binatang hal yang demikian telah melahirkan sebelum disembelih, maka ia sembelih ibu dan janinnya sebagai qurban. Dalilnya yaitu hadits:
    ذَكَاةُ الْجَنِيْنِ ذَكَاةُ أُمِّهِ
    “Sembelihan bayi dalam kandungan (cukup) dengan sembelihan ibunya.”
    Hadits ini datang dari banyak teman, lihat perinciannya dalam Irwa`ul Ghalil (8/172, no. 2539) dan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menshahihkannya.
    11) Adapun bila binatang hal yang demikian belum di-ta’yin maka dibolehkan baginya untuk memasarkannya, menghibahkannya, menyedekahkannya, atau menyembelihnya untuk diambil daging dan lainnya, layaknya binatang lazim.